Punyakah Kita Nurani?

Hari itu, Rabu 30 Juli 2008. Tim Kami yang terdiri dari 5 orang fasilitator harus mengadakan sosialisasi program di suatu Kelurahan di Kota Solok. Jadwal yang disepakati adalah jam 20.00 WIB. Dua orang teman yang tinggal di Bukittinggi berangkat dari Bukittingi sekitar jam 16.30 menuju Kota Solok. Sesampainya di Singkarak, mereka melihat sesuatu. Ada orang yang sedang tertelungkup dijalan tanpa bergerak sedikit pun dan dengan kondisi motor yang hancur parah. Barangkali ia adalah korban tabrak lari. Atau gara-gara menabrak anjing? Rasanya juga tidak, karena tidak ada anjing yang ikut menderita di TKP. Jalanan itu sepi sekali. Hanya mereka berdua dan korban kecelakaan itu. Menurut mereka korban sudah tidak bernyawa. Mereka sempat bingung. Berhenti menolong atau melanjutkan perjalanan? Logika mereka mengatakan bahwa jika mereka berhenti dan memberitahu warga ataupun polisi sehubungan dengan kejadian tersebut maka bisa jadi mereka yang tertuduh sebagai penabrak. Namun jika mereka tidak menolong, bagaimana dengan si korban?

Akhirnya….keputusan itu mereka ambil. Tetap melanjutkan perjalanan. Terus terang hati ini sedih mendengarnya. Bagaimana dengan si korban? Tidakkah pernah terpikir oleh mereka jika kejadian tersebut menimpa orang tua, saudara ataupun sanak keluarga kita? Tanpa ada yang menolongnya? Bisa jadi awalnya si korban masih hidup. Namun ketika ia tak kunjung mendapat pertolongan maka bisa jadi nyawanya pun melayang. Kemanakah nurani kita? Ataukah saya yang terlalu mengada-ada punya pikiran untuk menolong orang yang nantinya malah bisa menyengsarakan kita? Entahlah….Saya juga tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika hal ini terjadi pada saya.

1 Komentar »

  1. rieta Berkata:

    kenapa harus berfikir panjang, kalau tidak ingin melakukannya? mbak nurani bukan untuk dipertanyakan …


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan sebuah Komentar