Ia dan Kemiskinannya (ataukah kemiskinan kita?)

Ipt01SABTU 8 Maret menjadi hari yang menggugah nuraniku. Hari itu seperti hari-hari yang biasanya harus kujalani dalam pekerjaanku sebagai pendamping di Kelurahan Durian II, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto Propinsi Sumatera Barat.

Sebagai fasilitator yang mendampingi pemanfaatan dana BLM maka hari itu agenda yang kutulis adalah mendampingi masyarakat dalam melakukan pengukuran jalan di Kelurahan Durian II yang akan dibangun dengan memanfaatkan dana BLM Tahap I. Aku bersama teman-teman Faskel Teknik lainnya melakukan pengukuran jalan dengan volume 100 x 1 m.jalan yang benar-benar tidak layak,padahal pengguna jalan tersebut umumnya adalah KK miskin, maka layaklah ia untuk masuk dalam PJM Pronangkis (perencanaan Jangka Menengah Program Penanggulangan Kemiskinan) tiga tahunan terutama dalam tahap I dana BLM yang menyedot dana sebesar Rp. 15.100.000,-.

Hari itu, seorang Bapak yang sudah tua renta sedang menggunakan jalan menuju rumahnya sembari menggotong daun pisang yang entah untuk diapakan, namun analisaku berpikir bahwa barangkali daun itu untuk dijual kepasar.

Dengan hanya mengenakan celana pendek ditambah selembar kain yang tersampir di pundaknya semakin memperjelas tulang-tulang yang telah menonjol seakan ingin memperlihatkan umur yang telah menua. Aku tidak tahu siapa ia. Namun aku juga tidak sadar bahwa ternyata di zaman sekarang masih ada bapak-bapak tua yang telah renta yang masih harus mencari sesuap nasi meski tubuhnya barangkali berkata

“aku tidak sanggup”. Barangkali berjalan di jalanan yang bagus saja ia masih tertaih-tatih, apalagi jika harus berjalan di jalanan yang tidak layak untuk dilalui oleh orang muda apalagi oleh bapak tua sepertinya. Semoga pembangunan jalan tersebut bisa meringankan bebannya untuk membawa hasil daun pisang ke pasar.

Tuhan….yang tak pernah lelah menjaga hamba-hamba-NYA, Tolong jaga ia dalam iman kepada-MU. Semoga kemiskinan di dunia tidak menjadikannya miskin di akhirat (amin).(*)

1 Komentar »

  1. rio Berkata:

    Lah diangkek jadi pns rin ?

    Aparat pemerintah yang jujur mungkin itu yang jadi mimpi di negeri yang bernama Indonesia.

    Kalau dana nya yang cuma 15 juta pake acara disunat dari atas sampai bawah ga ada lagi yang untuk perbaikan jalan :) .

    Tapi di sawahlunto lai jujur sadonyo kan.

    Keep on writing sis … :)


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan sebuah Komentar